Monday, February 3, 2020

Monolog Wanodja Soenda: Suara Perempuan dalam Balutan Pagelaran Mewah


Suatu hari saya mendapat pesan whatsapp dari kang Deni, pemilik Toko buku Lawang Buku. Beliau memberikan e-poster tentang pementasan Monolog Wanodja Soenda yang akan diselenggarakan tanggal 29 Januari 2019 di Hotel Savoy Homan. Raden Ayu Lasminingrat, Raden Dewi Sartika, dan Raden Emma Poeradireja adalah tiga perempuan yang menjadi tokoh dalam monolog tersebut. Bukan main gembiranya hati saya, mengingat kisah tentang mereka memang layak untuk terus diperkenalkan, dan digaungkan suaranya kepada publik. Kiprah ketiganya tak main-main dalam pendidikan dan organisasi perempuan.

Tentu saja yang membuat semangat saya semakin menyala pada pementasan ini adalah dinyaringkannya suara Lasminingrat Raden Ayu Lasminingrat, tokoh perempuan yang semua karyanya saya baca dan ulas dua tahun belakangan ini. Saya sangat penasaran seperti apa sosok Lasmi akan dihadirkan.

Tak menunggu lama, saya langsung mengontak panitia untuk memesan tiket, harga tiket masuk atau pihak panitia menamakannya sebagai donasi sebesar Rp. 250.000,-. Dalam pemikiran saya, dengan donasi tersebut, orang-orang yang butuh pengetahuan tetapi kekurangan finansial tidak akan dapat menontonnya. Akses untuk mendapat pengetahuan dan informasi seharusnya dibuka lebar, mengingat ketiga tokoh perempuan tersebut milik masyarakat luas.

Tempat pementasan yang berada di tengah kota membuat saya sedikit bernafas lega, karena mudah diakses dari arah Bandung Selatan. Dalam bayangan saya, tempat pertunjukan harus memenuhi kriteria sebagai tempat pertunjukan seperti tempat duduk yang berundak (level) tidak datar, maupun sound system yang terawat dan biasa dipakai khusus pertunjukan.

Wednesday, August 14, 2019

Agama : Kesadaran atau Warisan



Sengaja saya membuat judul tulisan ini seperti di atas. Tak ada apapun hanya ingin meyakinkan apa yang sedang saya anut dan perjuangkan. Agama lahir 2 abad yang lalu. Sejumlah kisah heroik dan keteladanan dilahirkan melalui sumber-sumber yang dinamakan kitab suci. Kitab suci diyakini sebagai firman dari yang Maha Suci. Illah. Sejak saat itu, semua hadir atas nama agama. Seluruh aspek manusia diatur oleh agama, meski tak sedikit yang merasa tak sreg.

Jauh dari kelahiran agama. Orang-orang zaman dulu meyakini sesuatu menurut nuraninya, entah apakah yang dilihat itu adalah bintang, atau pelangi atau bulan dan matahari. Tak ada hukum yang mengikat mereka. Semua tergantung oleh waktu berpindahnya siang menjadi malam, malam menjadi siang.

Kini. Produk-produk agama muncul meluber. Membuat sesak dan sedikit memualkan. Banyak oknum yang mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Dia sering kali dijadikan kambing hitam atas beragam tindakan keji di muka bumi ini. Membunuh, memperkosa, membatasi gerak perempuan, membakar tempat ibadah lainnya, membuat hidup orang yang tak sealiran menjadi sengsara. Atas nama Dia mereka tergelat di lautan tangisan dan darah orang-orang yang dihakiminya.

Agama yang sejatinya lahir untuk mendamaikan kini diperalat menjadi roda meraih kekuasaan dan uang. Agama apa yang kalian anut, Tuhan mana yang kalian imani? Apakah agama yang dihuni orang-orang yang penuh kemunafikan? Korupsi, dan beristri banyak? Ataukah agama yang melempem, diam saja melihat kemanusiaan dihancurkan di depan mata.

Lepaskan segera agama-agama yang kalian yakini sebagai agama warisan tersebut.
Carilah agama dan Tuhan-Tuhan baru.

Carilah Tuhan yang benar-benar Maha Asih. Tuhan yang Maha Asih tidak akan hadir pada orang-orang brutal yang berteriak-teriak mengumandangkan nama Tuhannya di jalan-jalan dengan beringas. Tuhan yang Maha Asih penikmat kesunyian, ia rindu dipanggil dengan lirih.


Monday, January 7, 2019

Ibu dan Hari Demokrasi


Pagi itu tak seperti biasanya, orang-orang dewasa mulai sibuk berdandan. Tak mau kalah, bocah-bocah berlarian hilir mudik. Sekolah dan kantor diliburkan. Senin, 5 juli 2004 menjadi hari bersejarah. Pemilihan presiden diadakan pertama kali secara langsung sejak negara ini didirikan.

Di jalanan, bentangan spanduk dengan warna dasar merah berkibar-kibar meriah. Merah. Merah. Tinggal di daerah dengan basis massa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan membuat mata ini tak mentolerir ada warna lain selain merah. Saat itu saya masih belum paham apa makna pemilu bagi saya, seorang remaja yang beranjak dewasa.

Ibu, dari jauh-jauh hari sudah menentukan pilihan. Kali ini ia berbeda pilihan dari keluarga besarnya. Dilahirkan dari keluarga yang cukup religius membuat ibu seperti mengemban tanggung jawab untuk memilih partai berlogo kabah dalam setiap pemilu. “Hanya itu partai yang mewakili islam”, kata aki kepadanya berpuluh tahun lalu. Bapak, lain lagi, Ia seorang guru, abdi negara, pns sejati. Pada partai berlogo beringin bapak menambatkan hatinya. “Kamu, kita semua bisa makan karena partai itu”. Begitu ia menekankan pada saya berkali-kali. Lagi-lagi saya masih tak peduli, saya tak paham.

Friday, December 28, 2018

Perpusnas RI : Surga Para Pencari

Foto dokumentasi pribadi

Pagi-pagi sekali saya sudah bersiap. Jadwal keberangkatan kereta api jam 07.35 membuat saya harus bersigegas sejak suara sayup speaker musola di samping rumah terdengar. Hari itu, 2 November saya menuju Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) di Jakarta.

3 jam perjalanan, jarak tempuh kereta Bandung-Jakarta terasa sangat singkat. Kereta berhenti di stasiun akhir, Gambir. Udara ibukota mulai menyergap, keringat dengan cepat membasahi tubuh. Saya disambut luapan massa yang saat itu sedang berkumpul di Monas, membuat sulit bergerak.

Gedung tinggi menjulang 27 lantai itu bukan saja menjadi harapan para pencari data tetapi menjadi pengguyur dahaga saya setelah cukup penat berjibaku hampir 45 menit dalam lautan massa. Sebenarnya, jarak dari stasiun kereta Gambir ke Perpusnas RI tidaklah jauh, hanya lima menit saja dengan menggunakan motor, bahkan bisa berjalan kaki. Gedung Perpusnas RI yang baru saja diresmikan kini menjadi salah satu ikon Indonesia, terletak di pusat kota mudah dijangkau oleh siapa saja.

Tentu saya tak sendiri, teman saya sudah menunggu untuk menemani dan membantu proses pencarian data. Ia, sudah lebih dulu ada di Jakarta. Kami saling berbagi tugas. Proses pencarian tidaklah mudah. Saya mengibaratkan data itu seperti jodoh, ia akan datang di saat yang tepat.

Wednesday, October 31, 2018

Perempuan dalam Pelukan


Siang itu, 29 Oktober 2018, dengan langkah ringan saya meninggalkan toko buku. Hujan mulai turun tipis-tipis. Toko buku di jalan Merdeka Bandung ini memang kerap kali menjadi tempat favorit saya untuk membeli buku, peralatan maupun sekedar membaca.

Saya pun berjalan melewati koridor yang menghubungkan kedua bangunan. Tepat ketika kaki saya melangkah ke pintu gedung toko buku untuk menuju tampat parkir tiba-tiba ada yang memanggil nama saya dengan jelas dan setengah berteriak. Lima detik pertama, saya terpaku. Rasanya tak percaya dengan apa yang saya lihat. Dengan hati gelisah saya mendatanginya, mencium tangan perempuan itu.

Dari ujung matanya, saya pun bisa menangkap perasaannya sedang tak karuan. Mulutnya antusias bertanya banyak hal, pertanyaan yang remeh temeh, sekedar basa basi. Saya pun menimpalinya dengan sedikit tidak nyaman. Tanpa sadar, kami berdua ternyata masih menyimpan perasaan yang belum selesai.

Setelah obrolan basa basi yang berlangsung lima menit, dengan serta merta ia memeluk saya. Tubuhnya yang tambun, adalah tubuh yang sering sekali saya peluk, dulu…dulu sekali. Saya masih dapat membaui aroma parfumnya yang masih sama.

Sunday, August 19, 2018

Politik dan Hari-hari yang Kelam


Sejak diumumkannya Capres dan cawapres tanggal 10 Agustus lalu untuk periode 2019-2024 suasana seantero negeri pun gegap gempita. Orang-orang bersuara mengeluarkan pendapatnya. Ada yang berpendapat dengan ambisius dan heroik membela capres pilihannya, ada juga yang sibuk mencari-cari kesalahan. Yang paling banyak dan menyedihkan adalah suara-suara itu berkembang tanpa data. Fitnah-fitnah tersebar di ruang maya dan dengan segera dikonsumsi masyarakat luas.

Tidak hanya di kota, gema politik pun ternyata sampai di pelosok desa. Jika dahulu kebanyakan masyarakat desa bersikap masa bodoh dengan dunia politik, sekarang mereka menjadi ‘melek’ politik, saling melempar gagasan, beropini, berdebat dan saling menyerang pendapat lawan. Sayangnya kebanyakan perdebatan hanya didasari oleh kebencian. Kebencian itu bukan hanya dikonsumsi oleh orang dewasa saja tetapi sudah melibatkan anak-anak kecil yang belum memiliki hak pilih. Mereka menjelekkan Jokowi tanpa rasa sungkan, semua aspek dikulitinya, pantangan untuk tidak berkampanye SARA pun diabaikannya. Begitu juga sebaliknya, Prabowo dijatuhkan dari segala aspek, hingga seolah-olah tak satupun ada kebaikan yang tersisa. Dengan cara seperti ini tak ada yang mereka raih kecuali kepuasan telah ‘merasa’ menyelamatkan negara dari pemimpin dzalim.

Saturday, August 18, 2018

Sepotong Ingatan tentang Hari Kemerdekaan



Gambar dokumentasi pribadi

Kokok ayam jantan pagi ini terdengar nyaring sekali. Semburat matahari merah tertangkap sudut mata. Sinar hangatnya membuat betah berlama-lama berdiam di depan jendela. Sesekali terdengar suara megaphone memanggil penduduk seantero kampung.

Hari ini, semua tampak sibuk. Bapak dan emak sudah bersiap dari pagi. Mereka tampak asyik memasang tali sepatu. Baju, topi dan sepatunya senada bercorak merah putih. Bendera merah putih yang terbuat dari kertas kecil tampak tergeletak di samping tubuhnya. Saya menyaksikan itu semua penuh takjim. Mata saya tak berhenti menatap bendera merah putih yang sudah seminggu ini berdiri gagah tepat di depan rumah. Tiang yang tinggi membuatnya menjadi lebih berarti.

Emak dan bapak pergi tanpa pamit. Pintu rumah dibukanya perlahan. Terdengar bunyi langkah kaki mengendap-ngendap seolah khawatir derapnya akan membuat saya terbangun, padahal saya telah terjaga sedari tadi.

Dengan mata yang menyipit, dari celah-celah jendela saya mengintip kepergian mereka. Mereka melangkah sambil bergandengan tangan. Langkah kakinya sejajar. Bapak menenteng tas kecil yang berisi air minum. Tangan emak terus mengibar-ngibarkan bendera merah putih yang dibuat bapak semalam.

Lamat-lamat terdengar suara bapak di megaphone, acara jalan santai dalam menyambut hari kemerdekaan sepertinya akan segera dimulai. Terdengar bapak menjelaskan rute perjalanan. Saya pun tersadar segera beranjak dan bersiap, menyusul mereka, emak dan bapak.

Rute jalan santai tak berubah dari tahun-tahun sebelumnya. Kepala-kepala menongol dari balik-balik pagar, menyoraki kami yang terus berjalan sambil bernyanyi. Sesekali tangan mereka mengepal berteriak “merdeka” kubalas dengan teriakan yang lebih kencang lagi “merdeka”. Beberapa dari mereka terlihat asyik duduk di depan televisi menanti upacara pengibaran bendera merah putih di istana.

Sepanjang mata memandang saya lihat merah putih berkibar-kibar dalam diam. Tak peduli ia dipasang dimana. Beragam bentuk hadir menghiasi sudut rumah, jalan, masjid, alun-alun dan tak ketinggalan membentang sepanjang jalan, dihubungkan dengan menggunakan tali kasur dari rumah ke rumah.

Hari makin terik, langkah kaki juga semakin gontai. Rasanya tak sabar ingin segera menuju titik akhir. Kulihat emak dan bapak sudah tidak saling bersama, mereka terpisah. Bapak memimpin perjalanan, meninggalkan emak yang memang terlalu santai berjalan. Mata saya mengawasi mereka dari belakang. Titik akhir pun sudah terlihat, hati ini membuncah rasanya, sambil terus bernyanyi lagu kemerdekaan, langkah kakiku rasanya makin melebar.

Saya, bapak dan emak tiba di garis finish. Kami saling berpandangan, saling memekik “merdeka”. Peluh bercucuran membasahi anak-anak rambut, turun ke pelipis, jatuh di sudut telinga. Dengan kaki berselonjor saya menyaksikan beberapa anak kecil sudah bersiap mengikuti perlombaan balap karung. Terdengar aba-aba, satu-dua-tiga, anak-anak kecil pun melesat, meloncat, beberapa ada yang bertubrukan dan terguling. Beberapa orang tua mereka tergelak, tawa lebar menghasilkan derai air mata tipis-tipis. Sesekali mereka menyusut air matanya. Dari kejauhan saya menangkap momen itu dalam ingatan. Mengabadikannya dalam hati dan pikiran, menyimpannya rapat-rapat untuk sesekali kuintip.

Usai lomba balap karung, anak-anak kecil itu tak segera beranjak. Lomba demi lomba mereka ikuti, matahari makin nekat berada di atas kepala mereka, memanggang kepala-kepala dengan rambut yang mungkin sudah tidak dikeramas selama satu minggu. Kecurangan kecil sesekali terlihat ketika lomba makan kerupuk, tangan kecil mereka sebagian memegang kerupuknya, kadang ada saja orang tua yang nakal berupaya segala cara agar anaknya menang. Anaknya  memang menang menggondol hadiah snack yang dibungkus kado, tapi saat itu juga ia sebenarnya telah menanam benih kecurangan.

Sinar matahari makin meredup. Perlombaan makin habis. Kerupuk sudah tandas, gentong-gentong air sudah pecah, jarum dan botol sudah berserakan dimana-mana, karung-karung goni tergelatak pasrah meminta dirapihkan. Saya pun beranjak, menggandeng emak dan bapak.

Kututup ingatan tentang hari kemerdekaan berbelas tahun lalu itu. Hari ini, saya berdiam saja di depan televisi menyaksikan presiden Jokowi memimpin upacara. Sambil mata ini nanar dan perih, aroma panas mulai menjalar ketika menatap video heroik anak SMP naik ke ujung tiang bendera. Kusapa emak melalui pesan singkat whatsapp, kusapa juga bapak melalui sms, semoga tersisa sedikit ingatan dalam benak mereka ketika kaki mereka masih melangkah bersama.